Serangan Houthi Sasar Bandara Arab Saudi, Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak
![]() |
| Serangan rudal dan drone yang menyasar sejumlah fasilitas strategis di Arab Saudi, termasuk Bandara di Riyadh. (Dok. Ist) |
REPUBLIKINDONESIA.NET — Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang dilaporkan terdampak langsung akibat serangan rudal dan drone di sejumlah wilayah Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan tersebut, pemerintah Indonesia terus memantau kondisi WNI sekaligus mengingatkan mereka untuk meningkatkan kewaspadaan.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan pemantauan dilakukan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah. Kedua perwakilan tersebut juga berkomunikasi dengan komunitas WNI untuk memastikan keselamatan warga di wilayah kerja masing-masing.
"Hingga laporan terakhir yang diterima Kementerian Luar Negeri dari KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak langsung akibat perkembangan situasi keamanan tersebut," ungkap Heni Hamidah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (10/10/2026).
Serangan menyasar bandara dan fasilitas vital
Berdasarkan informasi otoritas Arab Saudi, serangkaian serangan terjadi pada 6–7 Oktober 2026 dengan sasaran sejumlah fasilitas strategis, termasuk Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga warga negara asing dan menyebabkan 36 orang lainnya mengalami luka-luka. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Houthi di Yaman disebut melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Arab Saudi.
Situasi kembali berkembang pada 8–9 Oktober 2026 setelah dilaporkan adanya serangan lanjutan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada fasilitas penerbangan serta mengganggu sejumlah jadwal penerbangan.
Perkembangan ini membuat otoritas Indonesia terus mencermati situasi keamanan, terutama dampaknya terhadap keselamatan WNI dan kelancaran transportasi udara di Arab Saudi.
Operasional penerbangan dipantau
Selain memantau keselamatan warga Indonesia, perwakilan RI turut memperhatikan kondisi penerbangan di negara tersebut. Berdasarkan pemantauan KJRI Jeddah pada 6–8 Oktober 2026, operasional di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah masih relatif terkendali.
Lebih dari 93 persen penerbangan di bandara tersebut dilaporkan tetap beroperasi selama periode pemantauan.
"Namun demikian, perkembangan keamanan yang dinamis berpotensi memengaruhi operasional penerbangan di sejumlah wilayah Arab Saudi," ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasional penerbangan masih berjalan relatif normal di Jeddah, meskipun perkembangan situasi keamanan berpotensi menimbulkan gangguan di wilayah lain.
WNI di Arab Saudi diminta meningkatkan kewaspadaan
Sebagai langkah antisipasi, KBRI Riyadh telah menerbitkan imbauan resmi bagi seluruh WNI yang berada di Arab Saudi. Mereka diminta menghindari lokasi yang berpotensi menjadi titik kerawanan dan membatasi perjalanan yang tidak mendesak.
WNI juga diminta mematuhi arahan otoritas setempat serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan pemerintah Arab Saudi maupun perwakilan Indonesia.
"WNI juga diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Pemerintah Arab Saudi maupun Perwakilan RI," kata Heni.
Kemlu RI menegaskan pemantauan akan terus dilakukan bersama KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah untuk mengantisipasi perkembangan situasi. Langkah perlindungan akan disesuaikan dengan kebutuhan guna menjaga keselamatan WNI di tengah dinamika keamanan Arab Saudi.
"Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah akan terus memantau perkembangan situasi serta mengambil langkah-langkah pelindungan yang diperlukan guna memastikan keselamatan WNI di Arab Saudi," pungkasnya.
