Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

BCA Targetkan Kredit 2026 Tumbuh 8–10 Persen, Lebih Agresif Kejar Transaksi Nasabah

BCA Targetkan Kredit 2026 Tumbuh 8–10 Persen, Lebih Agresif Kejar Transaksi Nasabah
BCA targetkan kredit 2026 tumbuh 8–10 persen, lebih agresif kejar transaksi nasabah. (Dok. Ist)

REPUBLIKINDONESIA.NET — PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memasang target optimistis terhadap kinerja penyaluran kredit pada 2026.

Bank swasta terbesar di Indonesia itu membidik pertumbuhan kredit di kisaran 8 hingga 10 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang tumbuh 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Direktur BCA, Vera Eve Lim, mengatakan manajemen melihat prospek ekonomi tahun ini dengan sentimen yang lebih positif, sehingga pertumbuhan kredit diharapkan bisa melaju lebih cepat sejak awal tahun.

“Kita lebih positif melihat perkembangan tahun ini. Mudah-mudahan pertumbuhan kredit ini bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, dari kuartal I dan seterusnya,” kata Vera dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Dampak suku bunga dan proyeksi NIM

Seiring dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) yang terjadi lima kali sepanjang 2025, BCA memperkirakan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada 2026 berada di kisaran 5,4 hingga 5,6 persen.

Pada 2025, NIM BCA tercatat sebesar 5,73 persen, sedikit menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 5,83 persen.

“Jadi menurun NIM-nya (perkiraan pada 2026). Memang kita ekspektasi dampaknya (dampak penurunan BI-Rate pada 2025) akan lebih terasa tahun ini,” ujar Vera.

Kualitas aset tetap terjaga

Untuk rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), BCA menargetkan tetap berada pada level yang sehat, tidak jauh berbeda dari capaian 2025 di kisaran 1,8 hingga 2 persen.

Sepanjang 2025, NPL gross BCA berada di level 1,71 persen, membaik dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar 1,78 persen.

Strategi agresif dan peluang bisnis

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menambahkan bahwa perseroan akan terus menangkap peluang bisnis dengan tetap mencermati dinamika global dan domestik.

Selain mendorong pertumbuhan kredit, BCA juga fokus meningkatkan penghimpunan dana murah atau CASA.

“Dengan suku bunga yang trennya menurun, strategi kita tentunya menaikkan volume, sehingga 2026 kita akan coba lebih agresif lagi untuk mengejar bisnis para nasabah supaya lebih banyak lagi transaksinya melalui BCA,” kata Hendra.

BCA memproyeksikan BI-Rate berpotensi dipangkas satu hingga dua kali sepanjang 2026.

Namun, proyeksi tersebut masih akan dipengaruhi kondisi makroekonomi global, khususnya arah suku bunga Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR).

“Tantangan selalu ada setiap tahun (terutama dalam merealisasikan target bisnis pada 2026). Semoga kita bisa ada solusinya untuk semua tantangan di tahun 2026,” ujar Hendra.

Kinerja 2025 sebagai fondasi

Per akhir Desember 2025, total kredit BCA tercatat mencapai Rp993 triliun atau tumbuh 7,7 persen yoy.

Kredit korporasi menjadi kontributor terbesar dengan porsi 48,2 persen senilai Rp478,9 triliun, tumbuh 11,5 persen yoy.

Kredit komersial tercatat Rp146,8 triliun (tumbuh 8,5 persen yoy), disusul kredit UKM sebesar Rp130,9 triliun (tumbuh 5,7 persen yoy).

Sementara kredit konsumer berada di angka Rp224,1 triliun dengan pertumbuhan relatif stabil sebesar 0,2 persen yoy.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen yoy menjadi Rp1.249 triliun, dengan dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 13,1 persen yoy hingga Rp1.045 triliun.

Menutup tahun 2025, BCA membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi fondasi kuat untuk mengejar target yang lebih agresif pada 2026.

Slot 5k